Rabu, Mei 22, 2024
spot_imgspot_img

FAKTA TERBARU

Kreatif, Ditangan Warga Bantul Ini, Sampah Plastik Diubah Menjadi Paving Blok Ramah Lingkungan

Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img

Penulis : Wahyu Purnomo

BANTUL, (Fakta9.com)__//Sampah plastik selalu menjadi masalah utama dalam pencemaran lingkungan baik pencemaran tanah maupun laut.

Prihatin dengan hal tersebut, ‘Komunitas Bijak Sampah’ di wilayah Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, D.I.Yogyakarta mengubah sampah-sampah plastik menjadi bahan baku pembuatan material bangunan ramah lingkungan.

Inisiatif itu pertama kali datang dari Nur Subiantoro, warga Padukuhan Kanggotan, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Bantul.
Ia kemudian mendorong warga sekitar untuk mengolah sampah berbasis teknologi hijau.


Baca juga : Devile Drum Band Meriahkan Upacara Penurunan Bendera HUT RI ke-77 di Kalurahan Tamanan


“Sampah akan menjadi suatu permasalahan jika tidak diselesaikan dari sumbernya. Sedangkan pemerintah juga tidak mungkin mengatasi sampah secara sendiri tanpa partisipasi masyarakat,” tutur Nur Subiantoro, yang juga merupakan Wakil Ketua DPRD Bantul.

Menurut Subiantoro, dengan alat yang sederhana, sampah plastik yang tidak memiliki nilai ekonomis bisa diolah menjadi batu pemecah gelombang, bantalan kereta api, paving blok hingga produk lainnya dengan cara yang ramah lingkungan.

Adapun cara pemrosesan, sampah plastik akan dicacah menggunakan mesin menjadi bagian kecil-kecil, lalu dicampur dengan pasir pada alat yang disebut mixer. Campuran ini kemudian dipanaskan dengan listrik, hingga cacahan plastik meleleh, selanjutnya di tuangkan dalam cetakan (paving blok) dan di press.

Mesin yang digunakan untuk mengolah sampah.(foto_Dok.Pemkab Bantul)
“Biasanya, paving blok kan terbuat dari pasir dan semen. Maka disini kita mengubah sampah plastik menjadi pengganti semen.” terangnya.

Namun menurut Subiantoro, ia berharap pemerintah dapat memfasilitasi dengan pengadaan mesin dengan kapasitas yang lebih besar.

Mengingat, kapasitas mesin yang dimilikinya saat ini hanya 15 kg per hari, dan masih belum memadahi untuk mengolah sampah

mesin yang dimilikinya saat ini adalah prototipe dengan kapasitas hanya 15 kilogram per hari. Dan kapasitas itu hanya mampu untuk mengolah sampah di lingkungan kampung Kanggotan.


Baca juga : Tak Kunjung Chek Out, Lelaki Paruh Baya Ditemukan Meninggal di Kamar 201


Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bantul Ari Budi Nugroho mengapresiasi gerakan penanganan sampah berbasis lingkungan ini. Menurutnya, dengan pengolahan sampah berbasis teknologi hijau ini, selain dapat membuat lingkungan sekitar menjadi bersih, juga bisa mengangkat perekonomian warga masyarakat.

“Pengolahan sampah berbasis teknologi ini merupakan solusi yang tepat, dan harus dikembangkan. Mengingat potensi sampah di Bantul setiap harinya mencapai 300 ton, diharapkan teknologi ini merupakan salah satu solusi terbaik.” tegasnya

Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img

FAKTA TERBARU

Advertisementspot_img

BACA JUGA