Minggu, April 14, 2024
spot_imgspot_img

FAKTA TERBARU

Kearifan Lokal Untuk Menuju Gunungkidul Makmur

Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img

GUNUNGKIDUL, DIY (FAKTA9.COM)__//Gunungkidul sebenarnya memiliki potensi budaya dan potensi alam yang melimpah. Salah satunya adalah Gunung Sewu yang cukup di kenal secara Internasional.

Tentu saja jika jika dapat dimanfaatkan secara optimal hal itu akan sangat menguntungkan pendapatan daerah maupun perekonomian masyarakat lokal.

Namun menurut mantan Birokrat Kabupaten Gunungkidul Assoc.Prof.Dr.Supriyadi,M.Pd, masih ada saja orang yang berpikir picik mengenai wilayah Kabupaten Gunungkidul.


Baca Juga : BREAKING NEWS: Bocah Yang Hilang di Sungai Oya Sempat Berpegangan Bambu Yang Roboh Sebelum Hanyut


“Banyak pendapat dari para pengamat, ekonom, pengusaha dan penjual proposal yang memandang Gunungkidul itu kering, gersang, miskin dan memiliki sumber daya manusia sebatas babu dan asisten rumah tangga dan lainnya.” Ungkapnya

Pendapat itu dimungkinkan di inisiasi oleh putra Gunungkidul sendiri. Yang mengeksploitasi kekeringan dan kemiskinan untuk dijadikan objek mencari keuntungan.

Tentu saja paradigma itu sangat menyinggung harga diri rakyat Gunungkidul. Kalau itu adalah fakta maka jahat benar si Anak Durhaka itu.

Untuk dapat memanfaatkan serta mengoptimalkan potensi yang ada di wilayah Gunungkidul, menurut Dosen Universitas Negeri Solo ini perlu dilakukan pengkajian dan langkah-langkah yang strategis.

“Salah satunya dengan meneladani filosofi Mangkunegara yang tersohor dengan Tri Dharma Laksita yaitu, mulat sariro hangrasa wani, Rumongsa handarbeni lan melu hangrungkebi (berani mawas diri, merasa ikut memiliki, wajib ikut menjaga/membela).” Ujarnya.

Bahasa itu sederhana lugas tetapi sangat sarat dengan makna integritas sosial dan kultural.

Memandang bumi, alam serta manusia bukan sebagai obyek, melainkan subjek perjuangan dan spirit hidup bermasyarakat serta bernegara.

“Maka untuk dapat memahami Gunungkidul, kita harus meluluhkan jiwa dan raga sebagai subjek yang bergerak dan melangkah dari eksistensi Gunungkidul sebagai pusat peradaban masyarakat Mataram. Yaitu memulai dari alam dan budaya, sosio-kultural yang lestari. Kemudian melakukan modernisasi dan demokratisasi harus tetap berpijak pada integritas sosio-kultural di Gunungkidul.” Terang Supriyadi

Baca juga : Ketua Semar Gunungkidul Apresiasi Pengesahan Jabatan Lurah 8 Tahun


Kearifan lokal adalah modal utama seorang calon pemimpin yang akan berhasil mewujudkan Gunungkidul makmur.

“Tanpa memahami kearifan lokal yang ada di Gunungkidul akan sulit melakukan perbaikan kesejahteraan masyarakat, karena membutuhkan kemampuan manjing ajor-ajer, Punjul ing apapak brojol ing akerep, memiliki tanggungjawab dan jiwa Satria jinumput , memiliki intensitas handarbeni dan Hangrungkebi bumi Gunungkidul.” katanya
“Dan jika keteladanan paripurna itu dijadikan sesanti sebagai ruh pemimpin niscaya masyarakat Gunungkidul akan mendapatkan kesejahteraan yang paripurna secara, ekonomi, sosial kultural dan mampu hidup mandiri, demokrasi tak tergadaikan, suara tidak dijual belikan.” Pungkasnya

 

Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img

FAKTA TERBARU

Advertisementspot_img

BACA JUGA