Senin, Juni 27, 2022
spot_imgspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img

FAKTA TERBARU

Mengenal dan Mengenang Sejarah Kabupaten Gunungkidul

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img


GUNUNGKIDUL (Fakta9.com)_ _// Dalam rangkaian Hari Jadi Gunungkidul ke 191 Tahun 2022, Bupati Gunungkidul bersama Pimpinan OPD dan Forkompinda melaksanakan ziarah ke Makam Bupati Gunungkidul Pertama yaitu Alm Raden Mas Tumengung Ponco Dirdjo yang terletak di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Padukuhan Kerjo I, Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong, pada hari Selasa (24/05/2022).

Pada kegiatan tersebut, terlaksana beberapa rangkaian acara mulai tabur bunga sampai pembacaan do’a dan juga pembacaan sejarah singkat Kabupaten Gunungkidul.


Baca Juga : Puncak Acara HUT Gunungkidul, Beberapa Ruas Jalan Protokol di Tutup


Dibacakan oleh Kabag Kesra, Drs. H Azis Shaleh bahwa pada zama dahulu Gunungkidul masih merupakan hutan belantara, namun terdapat suatu desa yang dihuni beberapa orang pelarian dari Majapahit.

Desa tersebut adalah Pongangan, yang dipimpin oleh R. Dewa Katong saudara Raja Brawijaya.

Setelah R. Dewa Katong pindah ke Desa Katongan yang terletak 10 Km sebelah Utara Pongangan dan puteranya yang bernama R. Suromejo membangun Desa Pongangan, sehingga semakin lama semakin ramai. Beberapa waktu kemudian, R. Suromejo pindah ke Karangmojo.

Perkembangan penduduk di daerah Gunungkidul itu didengar oleh Raja Mataram Sunan Amangkurat Amral yang berkedudukan di Kartosuro, kemudian ia mengutus Senopati Ki Tumenggung Prawiropekso agar membuktikan kebenaran berita tersebut. Setelah dinyatakan kebenarannya, Tumenggung Prawiropekso menasehati R. Suromejo agar meminta ijin pada Raja Mataram, karena daerah tersebut masuk dalam wilayah kekuasaannya.

R. Suromejo tidak mau, dan akhirnya terjadilah peperangan yang mengakibatkan dia tewas. Begitu juga 2 anak dan menantunya.

Mas Tumenggung Pontjodirjo yang merupakan anak R. Suromejo akhirnya menyerahkan diri, dan oleh Pangeran Sambernyowo diangkat menjadi Bupati Gunungkidul ke-1.


Baca Juga : Padukuhan Ngluweng Menjadi Lokasi Syuting KKN Di Desa Penari, Masyarakat Mendapatkan Berkah


Namun Bupati Mas Tumenggung Pontjodirjo tidak lama menjabat karena adanya penentuan batas-batas daerah Gunungkidul antara Sultan dan Mangkunegaran II pada tanggal 13 Mei 1831.

Gunungkidul (selain Ngawen sebagai daerah Enclave Mangkunegaran) menjadi kabupaten di bawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta.

Selanjutnya Mas Tumenggung Pontjodirjo diganti Mas Tumenggung Prawirosetiko, yang mengalihkan kedudukan Kota Kabupaten dari Ponjong ke Wonosari.

Menurut Mr R.M Suryodiningrat dalam bukunya ”Peprentahan Praja Kejawen” yang dikuatkan buku De Vorstenlanden terbitan 1931 tulisan G.P Rouffaer, dan pendapat B.M.Mr.A.K Pringgodigdo dalam bukunya Onstaan En Groei Van Het Mangkoenegorosche Rijk, berdirinya Gunungkidul (daerah administrasi) tahun 1831 setahun seusai Perang Diponegoro, bersamaan dengan terbentuknya kabupaten lain di Yogyakarta.


Tabur bunga di makam Bupati pertama Gunungkidul(foto).

Disebutkan bahwa ”Goenoengkidoel, wewengkon pareden wetan lepen opak. Poeniko siti maosan dalem sami kaliyan Montjanagari ing jaman kino, dados bawah ipun Pepatih Dalem. Ing tahoen 1831 Nagoragung sarta Mantjanagari-nipoen Ngajogjakarta sampoen dipoen perang-perang, Mataram dados 3 wewengkon, dene Pangagengipoen wewengkon satoenggal-satoenggalipoen dipoen wastani Boepati Wadono Distrik kaparingan sesebatan Toemenggoeng, inggih poeniko Sleman (Roemijin Denggong), Kalasan serta Bantoel. Siti maosan dalem ing Pengasih dipoen koewaosi dening Boepati Wedono Distrik Pamadjegan Dalem. Makanten oegi ing Sentolo wonten pengageng distrik ingkang kaparingan sesebatan Riya. Goenoengkidoel ingkang nyepeng siti maosan dalem sesebatan nipoen Riya.”

Dan oleh upaya yang dilakukan panitia untuk melacak Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul tahun 1984, baik yang terungkap melalui fakta sejarah, penelitian, pengumpulan data dari tokoh masyarakat, pakar serta daftar kepustakaan yang ada, akhirnya ditetapkan bahwa Kabupaten Gunungkidul dengan Wonosari sebagai pusat pemerintahan lahir pada hari Jumat Legi tanggal 27 Mei 1831 atau 15 Besar Je 1758 dan dikuatkan dengan Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Gunungkidul No : 70/188.45/6/1985 tentang Penetapan hari, tanggal bulan dan tahun Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul yang ditandatangani oleh bupati saat itu Drs KRT Sosro Hadiningrat tanggal 14 Juni 1985.


Baca Juga : Divonis 6 Tahun Penjara, Terdakwa Kasus Korupsi ADD Kalurahan Getas Akan Ajukan Banding


Sedangkan secara yuridis, status Kabupaten Gunungkidul sebagai salah satu daerah Kabupaten yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta dan berkedudukan di Wonosari sebagai ibukota kabupaten, ditetapkan pada tanggal 15 Agustus 1950 dengan UU no 15 Tahun 1950 jo Peraturan Pemerintah No 32 tahun 1950 pada saat Gunungkidul dipimpin oleh KRT Labaningrat.

Guna mengabadikan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul dibangun prasasti berupa tugu di makam bupati pertama Mas Tumenggung Pontjodirjo dengan bertuliskan Suryo sangkala dan Condro sangkala berbunyi : NYATA WIGNYA MANGGALANING NATA ” HANYIPTA TUMATANING SWAPROJO” Menuruut Suryo sangkala tahun 1831 dibalik 1381, sedang Condro sangkala 1758 dibalik 8571.


spot_img
spot_img

FAKTA TERBARU

JANGAN LEWATKAN