Senin, Agustus 15, 2022
spot_imgspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img

FAKTA TERBARU

Cerita Rakyat Petilasan Gedhong Lengis di Kapanewon Girisubo.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Girisubo ( fakta9.com)./ Petilasan Gedhong Lengis terletak di Kalurahan Balong, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Tempat ini merupakan petilasan yang memiliki latar sejarah yang cukup panjang.

“Nama Gedhong Lengis terdiri dari dua kata, yakni Gedhong yang memiliki arti rumah sedangkan Lengis memiliki arti ngeleng nangis (menangis tersedu-sedu).” terang juru kunci Petilasan Gedhong Lengis, Minggu (27/02/2022).

Disampaikan oleh Mbah Towi, jika tempat tersebut memiliki cerita rakyat yang sudah turun-temurun.

Dikisahkan pada Abad VIII terdapat sebuah kerajaan bernama Kerajaan Galuh yang terletak di Jawa Barat (Daerah Kabupaten Ciamis.). Kerajaan diperintah oleh seorang raja yang memiliki dua orang permaisuri, yakni Dewi Naga Ningrum dan Dewi Pangrenyep. Kedua permaisuri tersebut kebetulan hamil secara bersamaan dan sudah diprediksi oleh para ahli kerajaan, kalau kedua bayi yang akan lahir berjenis kelamin laki-laki semua.


Baca Juga : Peresmian Pasar Sore Argosari, Bupati Gunungkidul Bilang Masih Kumuh


Hal ini kemudian menimbulkan permasalahan tentang siapa pewaris tahta selanjutnya yang akan dinobatkan sebagai putra mahkota. Atas saran penasehat, raja disarankan untuk mengusir salah satu permaisurinya keluar istana, sehingga nanti hanya ada satu permaisuri yang tetap berada di dalam istana.

Dewi Naga Ningrum dengan ditemani abdi dalem kerajaan, Saud dan Maserut keluar dari kerajaan. Ketiganya kemudian menuju arah pantai selatan hingga akhirnya sampai di Gunungkidul, tepatnya di daerah Girisubo. Perut Dewi Ningrum sudah semakin membesar, dan akhirnya di situlah Dewi Ningrum melahirkan.

Dewi Naga Ningrum melahirkan bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Joko Mursodo. Dewi Naga Ningrum sendiri kemudian meninggal beberapa saat ketika Joko Mursodo lahir. Oleh Saud dan Muserut bayi tersebut kemudian diasuh hingga tumbuh dewasa. Melalui didikan Saud dan Muserut, Joko Mursodo tumbuh menjadi pemuda yang tangkas dan cerdas. Ketika Joko Mursodo memasuki masa remaja, sudah nampak kalau Ia adalah calon pemimpin.

Suatu saat ketika Joko Mursodo sedang menggembala ternak di dekat pantai, dirinya bertemu dengan seekor ikan yang berukuran raksasa. Konon menurut cerita ikan ini bisa berbicara layaknya manusia,melihat hal tersebut Joko Mursodo ketakutan.


Baca Juga : Harga Minyak Goreng Masih Tinggi, Kebijaan Pemerintah Tak Efektif


Ikan tersebut kemudian berkata kepada Joko Mursodo, kalau kelak ia akan mewarisi tahta kerajaan Galuh. Joko Mursodo sendiri tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan ikan tersebut. Ikan raksasa itu kemudian meminta Joko Mursodo untuk menaiki punggungnya, Joko Mursodo menuruti perkataan ikan tersebut dan membawanya ke kerajaan Laut Kidul. Setelah diperlihatkan kerajaan Laut Kidul, barulah Joko Mursodo percaya bahwa dirinya memang kelak akan mewarisi tahta Kerajaan Galuh.

Setelah sekian lama berpisah akhirnya Joko Mursodo, Saud dan Muserut bertemu kembali, mereka bertiga menangis haru tersedu-sedu karena bahagia setelah berpisah selama beberapa waktu. Tempat bertemunya Joko Mursodo, Saud, dan Muserut tersebut kemudian dikenal oleh masyarakat dengan Petilasan Gedhong Lengis.
Rumah tersebut menjadi tempat bertemunya Joko Mursodo, Saud dan Muserut dalam keadaan menangis haru bahagia ,maka arti dari Gedong Lengis ( gedung ngeleng nangis) atau menangis didalam rumah.


spot_img
spot_img

FAKTA TERBARU

JANGAN LEWATKAN