GUNUNGKIDUL, DIY (FAKTA9.COM)_ _// Gerakan “Ansor Eco-Preneuer Movement” mulai diwujudkan melalui kegiatan budidaya cabai dengan memanfaatkan sistem hidroponik dan barang bekas sebagai media tanam. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Paliyan dalam mendorong kemandirian ekonomi kader sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Baca Juga : Akhir Hidup Lansia Asal Semanu Dijeratan Seutas Tali di Pohon Jati
Budidaya cabai tersebut dilakukan dengan memanfaatkan botol plastik bekas sebagai wadah tanam. Selain menjadi solusi sederhana dalam pemanfaatan limbah plastik, metode ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bahwa kegiatan ekonomi produktif dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar.
Ketua Bidang Perekonomian PAC GP Ansor Paliyan, Nur Astanto menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun budaya kewirausahaan di kalangan kader Ansor.
“Kami ingin kegiatan ekonomi Ansor tidak hanya berbicara tentang usaha, tetapi juga bagaimana usaha tersebut bisa berjalan selaras dengan kepedulian terhadap lingkungan. Budidaya cabai ini menjadi langkah awal untuk mengembangkan model pertanian yang sederhana, produktif, dan bisa dikembangkan oleh kader.” Jelasnya, Minggu (30/08/2026) siang.
Menurutnya, budidaya cabai dipilih karena memiliki peluang ekonomi yang cukup baik dan relatif mudah dikembangkan.
“Kedepan, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada tahap budidaya, tetapi dapat dikembangkan menjadi usaha produktif mulai dari pembibitan, budidaya, hingga pemasaran hasil panen.” Ungkapnya.
Hal senada disampaikan Ketua PAC GP Ansor Paliyan, Akhib Ardiyanto. Ia menegaskan bahwa Ansor Eco-Preneuer Movement merupakan bagian dari ikhtiar Ansor Paliyan untuk menjadikan organisasi sebagai ruang tumbuh bagi kader, khususnya dalam bidang ekonomi dan lingkungan.
“Ansor harus mampu membaca potensi yang ada di masyarakat. Gerakan eco-preneur ini kami dorong agar kader tidak hanya aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi juga memiliki kemampuan menciptakan peluang ekonomi. Kami ingin membangun gerakan yang sederhana, dimulai dari apa yang bisa dilakukan hari ini, kemudian dikembangkan menjadi usaha bersama yang memberikan manfaat.” Paparnya.
Ia menambahkan, konsep “eco-preneur” menjadi penting karena tantangan ekonomi ke depan tidak hanya berkaitan dengan keuntungan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Karena itu, pemanfaatan barang bekas sebagai media tanam menjadi salah satu bentuk edukasi bahwa limbah masih dapat memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Baca Juga : Bupati Gunungkidul Dalami Permasalahan Pengisian Pamong Ulu-ulu di Kalurahan Siraman
Ansor Eco-Preneuer Movement kedepan diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan ekonomi berbasis lingkungan yang melibatkan lebih banyak kader dan masyarakat. Budidaya cabai hidroponik menjadi salah satu langkah awal untuk membangun ekosistem usaha yang produktif, kreatif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan di Paliyan.
“Dari barang bekas menjadi media tanam, dari lahan sederhana menjadi peluang ekonomi, dan dari kader menjadi penggerak perubahan.” Pungkasnya.




