Senin, Januari 19, 2026

FAKTA TERBARU

Percepatan Penurunan Stunting di Gunungkidul Harus Melibatkan Semua Pihak

Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img

GUNUNGKIDUL, DIY (FAKTA9.COM)_ _// Wakil Bupati Gunungkidul membuka sekaligus memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Stunting yang digelar di Dinas DPMKP2KB Gunungkidul, Jum’ at (28/11/2025).

Agenda ini merupakan Rakor TPPS Kabupaten terakhir di tahun 2025, yang pada kesempatan kali ini mengangkat tema Penanganan Baduta Stunting.


Baca Juga : SMP Muhammadiyah Nanggulan Dibobol Maling, Pihak Sekolah Merugi Puluhan Juta


Kepala Dinas DPMKP2KB, Sujarwo dalam laporannya menjelaskan bahwa setiap Rakor selama tahun ini selalu menghadirkan tema khusus sebagai fokus pembahasan. Ia juga menekankan pentingnya pengaktifan posyandu secara berkelanjutan serta penguatan koordinasi antara puskesmas, Kader Pembangunan Manusia (KPM), dan Panewu Anom selaku Ketua Harian TPPS Kapanewon.

“Harapan kami, semakin tinggi angka Deteksi Dini dan Pelayanan Stunting (DPS), maka prevalensi stunting akan terus menurun.” Ujarnya.

Sementara itu, Dalam sambutannya, Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto mengatakan bahwa Rapat Koordinasi ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan momentum evaluasi, refleksi, dan akselerasi untuk memperkuat upaya percepatan penurunan stunting.

“Stunting bukan hanya persoalan fisik anak yang pendek, tetapi indikator kegagalan pembangunan sumber daya manusia secara multidimensi. Ini adalah ancaman bagi masa depan generasi penerus yang menentukan daya saing Kabupaten Gunungkidul.” Jelasnya.

Joko mengungkapkan jika prevalensi stunting di Gunungkidul masih memerlukan perhatian serius. Berbagai persoalan di lapangan mulai dari kesehatan, pola asuh, sanitasi, hingga ketahanan pangan keluarga menjadi tantangan yang harus ditangani bersama.

“Isu stunting tidak dapat ditangani oleh satu OPD saja. Perlu sinergi mulai dari Pemerintah Kabupaten, Kapanewon, hingga Kalurahan, Intervensi Spesifik dan Berbasis Data.” Ucapnya.

Menurutnya, Intervensi harus tepat sasaran, berbasis data dari puskesmas, TPPS Kapanewon, dan kader PKK.

“Penanganan harus menyentuh seluruh rantai, mulai dari gizi ibu hamil, pemenuhan nutrisi balita, hingga ketersediaan air bersih dan sanitasi layak. Dan yang terakhir, edukasi serta perubahan perilaku.” Paparnya.

Joko juga menekankan pentingnya sosialisasi tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pola asuh yang tepat, serta perilaku hidup bersih. Peran posyandu dan kader PKK menjadi krusial dalam upaya ini.


Baca Juga : Perempuan Asal Magelang Aniaya Anak Dibawah Umur di Bantul


Diakhir sambutannya, Joko meminta seluruh perangkat daerah, panewu, dan jajaran terkait untuk mengambil peran aktif, berinovasi, mengelola anggaran secara efektif, serta menyampaikan setiap kendala untuk dicari solusi bersama.

“Kita memiliki tanggung jawab moral memastikan setiap anak di Gunungkidul tumbuh optimal, bebas dari stunting, dan menjadi generasi yang cerdas, sehat, serta berdaya saing.” Tandasnya.

 

Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img

FAKTA TERBARU

Advertisementspot_img

BACA JUGA