Rabu, Mei 29, 2024
spot_imgspot_img

FAKTA TERBARU

Nyadran Makam Raden Mas Tumenggung Djoyo Dikromo Secuco Ludiro, Seribu Ingkung Disajikan

Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img
Advertisementspot_imgspot_img

GUNUNGKIDUL, DIY (Fakta9.com)_ _// Ribuan masyarakat Kalurahan Sidorejo, Ponjong, hadiri tradisi nyadran sedekah 1000 ingkung ayam yang digelar di Makam Raden Mas Tumenggung Djoyo Dikromo Secuco Ludiro yang terletak di Padukuhan Blarangan, Senin (26/2/2024).

Lurah Sidorejo, Sidiq Nur Safii mengatakan bahwa nyadran merupakan bentuk rasa syukur kepada yang Maha pencipta dan selalu digelar setiap tahun sekali dalam tanggalan Jawa 15 Ruwah.

“Dalam nyadran ini masyarakat membawa ayam ingkung, nasi uduk dan uborampe lainya.” Ucapnya.

Baca Juga : Perempuan Tanpa Identitas Ditemukan Tewas Dikamar Kos


Menurut cerita, nyadran ini untuk mengingat cikal bakal munculnya Padukuhan Blarangan. Konon dahulu ada punggowo Majapahit lari dari kerajaan. Keduanya yakni Tumenggung Wayang dan Tumenggung Secuco Ludiro.

Mereka dikejar oleh para prajurit kerajaan, kemudian dipaksa untuk kembali. Karena menolak, akhirnya terjadi pertempuran hingga keduanya dikepung atau dikalang.

Berawal dari sana, jadilah nama Padukuhan Kalangan di Kecamatan Karangmojo. Ki Wayang saat itu sulit untuk ditaklukan. Tiga bagian tubuhnya dipisah dan membuatnya tersungkur tak berdaya lagi.

Akhirnya, Tumenggung Wayang wafat. Dengan peperangan tersebut, maka pertumpahan darah pun tejadi. Daerah itu kemudian disebut Blarangan, dari kata Mblarah Getih Blarah.

Setelah Ki Wayang wafat, Ki Secuco Ludiro yang masih bertahan hidup kemudian mengajarkan cocok tanam dan menjadikan daerah subur makmur. Setelah sekian lama, Ki Seco akhirnya wafat dan dikebumikan di Blarangan.

“Kegiatan ini di gelar dengan pembiayaan dana desa Tahun 2024 dan swadaya gotong royong semua warga.” Tegasnya.

Baca Juga : Dugaan Bullying Yang Dialami Siswa Disabilitas Berakhir Damai


Terpisah, Bupati Gunungkidul, Sunaryanta yang juga hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan jika tradisi yang berumur ratusan tahun ini dapat menumbuhkan kerukunan dan rasa kebersamaan antar sesama.

“Banyak tradisi dan budaya di Gunungkidul yang masih dilestarikan, salah satunya yang digelar di makam Raden Mas Djoyo Dikromo Secucu Ludiro. Saya kagum dengan semangat masyarakat di Kalurahan ini. Keariffan lokal yang masih dijaga didalamnya menanamkan nilai kebersamaan dan gotong royong.” Ungkapnya.

Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img

FAKTA TERBARU

Advertisementspot_img

BACA JUGA