Selasa, Juni 22, 2021
spot_imgspot_img
Advertisementspot_img
Advertisementspot_img

FAKTA TERBARU

Intelejen Indonesia dan Mossad

Meir Amit menjabat sebagai direktur dan kepala operasi global Mossad dari tahun 1963 hingga 1968. Dia memutuskan bahwa Mossad harus memperluas diplomasi rahasia Israel ke Timur Jauh. Maka, dibukalah stasiun intelijen Mossad di Singapura.

 

Mossad membentuk delegasi militer Israel permanen di Singapura yang dipimpin oleh Kolonel Binyamin (Fouad) Ben-Eliezer, seorang perwira berpengalaman yang kemudian dipromosikan menjadi brigadir jenderal. Ben-Eliezer dan timnya memberikan konsultasi, pelatihan, dan kemudian persenjataan kepada tentara dan polisi rahasia Singapura. Ben-Eliezer kemudian menjadi anggota legislatif dan memegang beberapa jabatan menteri.

 

“Singapura kecil, dengan populasi hampir dua setengah juta, menjadi landasan peluncuran bagi diplomat-diplomat alternatif Mossad di seluruh Asia. Kesuksesan besar pertama mereka di Asia adalah Indonesia,” tulis Dan Raviv dan Yossi Melman dalam Every Spy a Prince: The Complete History of Israel’s Intelligence Community.

 

Raviv dan Melman menyebut bahwa Presiden Sukarno, yang memperjuangkan kemerdekaan negaranya dari Belanda setelah Perang Dunia II, adalah pemimpin gerakan non-blok anti-Barat dan dengan tegas menentang Israel. Dia digulingkan pada 1965.

 

“Setelah mengawasi pembantaian tiga ratus ribu komunis, komandan tertinggi Angkatan Darat Jenderal Soeharto menjadi presiden. Dia akan melakukan hampir semua hal untuk memperkuat pemerintahannya, dan tahun sebelumnya Israel berhasil mengalahkan tentara Arab yang lebih besar hanya dalam enam hari (5–10 Juni 1967). Pantas terkesan, Soeharto menghubungi Israel,” tulis Raviv dan Melman.

 

“Mossad mengirim tim dari stasiun Singapura ke selatan Jakarta, di mana kemungkinan kerja sama dibahas sepenuhnya dan berbuah,” lanjut Raviv dan Melman. “Tak lama kemudian, para penasihat Israel –biasanya berpura-pura menjadi orang Eropa atau Amerika– melatih tentara Indonesia dan dinas intelijen Soeharto.”

 

Raviv dan Melman menyebutkan, badan keamanan dalam negeri di Jakarta yakin bahwa mereka bisa meningkatkan kemampuannya dengan nasihat Israel. Karena kebijakan antikolonialisme negara mereka yang tegas, orang Indonesia tidak mempercayai CIA atau dinas rahasia Barat lainnya. Oleh karena itu, Mossad adalah pilihan yang sempurna, dan agen Israel diizinkan untuk membuka stasiun yang cukup besar di Jakarta di bawah “kedok komersial”, istilah intelijen untuk penyamaran sebagai kegiatan bisnis. Presiden Soeharto dan para pembantunya mengatakan kepada Israel bahwa, sebagai negara Islam, Indonesia tidak pernah dapat mempertimbangkan hubungan diplomatik formal.

 

“Perwira militer dan intelijen Indonesia dikirim ke Israel untuk pelatihan, dan mereka berfokus terutama pada taktik anti-pemberontakan untuk mencari gerilyawan komunis –teknik yang dikuasai oleh Israel untuk melindungi perbatasan dan melawan Palestina,” tulis Raviv dan Melman.

 

Pada 1970-an, Mossad menjadi perantara penjualan senjata yang signifikan dari Israel ke Indonesia. Ini termasuk selusin pembom Skyhawk buatan Amerika, yang tidak lagi dibutuhkan Angkatan Udara Israel. Selain pendapatan dari penjualan itu, Israel juga mendapat keuntungan yaitu pijakan lain di dunia Islam. “Indonesia terbukti menjadi basis yang berharga untuk mengamati para diplomat Arab dan aktivis Palestina,” tulis Raviv dan Melman.

Mossad dan MI-6

Jenderal TNI (Purn.) Soemitro menyebut buku Dan Raviv dan Yossi Melman tersebut dalam biografinya, Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib: “Indonesia semasa Presiden Soeharto mengadakan hubungan dengan Mossad (Israel). Mossad mengirimkan utusan, satu tim dari posnya di Singapura ke Jakarta, lalu mengadakan pembicaraan yang berbuah. Pihak Israel menyelenggarakan pelatihan buat tentara Indonesia dan intelijennya. Mossad, katanya, telah menganggap pilihan yang bagus dan intelijen Israel membuka perwakilannya di Jakarta dengan ‘berwajah dagang’. Indonesia mengirimkan tenaganya ke Israel untuk mendapat pelatihan di sana.”

“Saya sendiri tidak punya hubungan langsung dengan pihak Israel, tidak pernah. Paling-paling, saya ingat, saya pernah datang ke Jl. Tosari (kalau tidak salah) memenuhi undangan mata rantai Israel yang ada di Jakarta,” kata Soemitro yang menjabat Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban dan Wakil Panglima ABRI pada 1971 sampai 1974.

Namun, Soemitro membenarkan telah memberi izin kepada petinggi intelijen untuk berhubungan dengan Israel dalam rangka penumpasan PKI. “Dalam hal ini Pak Sutopo Juwono, Pak Kharis Suhud dan Nicklany. Tiga orang ini yang saya izinkan,” kata Soemitro.

Letjen TNI Sutopo Juwono adalah kepala Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara, kini Badan Intelijen Negara), Mayjen TNI Kharis Suhud menjabat ketua G-1/Intel Hankam, dan Kolonel Nicklany Soedardjo, perwira Polisi Militer, menjabat kepala Deputi II Bakin.

Selain dengan Mossad, intelijen Indonesia juga bekerja sama dengan intelijen Inggris. “Kami mengadakan hubungan intelijen dengan Mossad (Israel) dan MI-6 (Inggris). Kedua-duanya sangat peka mengenai masalah komunis,” kata Soemitro yang menyebut “Amerika (CIA) kalah dalam hal ini. Apalagi setelah terjadinya peristiwa Watergate. Hancur intelijen Amerika waktu itu.”

Skandal Watergate pada awal tahun 1970-an merupakan percobaan pencurian dokumen dari markas nasional Partai Demokrat di Apartemen Watergate, Washington D.C. Aksi ini didalangi oleh anggota komite kampanye Richard Nixon sehingga membuatnya mengundurkan diri sebagai presiden. Soemitro mengakui “kerja sama Indonesia dengan kedua intelijen itu (Mossad dan MI-6) berjalan baik.”

 

Di kutip dari historia.id

 

FAKTA TERBARU

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img

JANGAN LEWATKAN