GUNUNGKIDUL, DIY (FAKTA9.COM)_ _// Ratusan warga memadati kawasan Pasarean R.Ng. Djoyowikromo di Padukuhan Gudang, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Gunungkidul, pada Kamis (28/05/2026) siang.
Kehadiran mereka bukan tanpa alasan, masyarakat bersatu padu dalam perhelatan upacara adat Grebeg Besar Gunung Wijil 11 Besar 1447 H.
Baca Juga : Warga Kemadang Tanjungsari Nekat G4ntung Dir1 di Trirenggo Bantul
Kegiatan ini menjadi bukti nyata betapa kuatnya daya tahan tradisi di tengah masyarakat lokal. Di bawah koordinasi panitia yang diketuai oleh KRTH. Suroto, seluruh rangkaian acara disusun sebagai bentuk penghormatan atas warisan leluhur. Suasana khidmat menyelimuti kawasan Makam Gunung Wijil saat masyarakat bergotong royong menyukseskan jalannya upacara.
Kekuatan Komunitas dan Semangat “Lestari Budayaku” Penyelenggaraan Grebeg Besar ini sepenuhnya lahir dari inisiatif dan swadaya warga Padukuhan Gudang.
Panitia pelaksana, Suroto menegaskan bahwa kehadiran setiap pihak dalam acara tersebut merupakan bentuk dukungan berharga bagi keberlanjutan adat, budaya, dan kebersamaan.
“Kegiatan ini merupakan acara tahunan yang terus kami laksanakan.” Ucapnya.
Terpisah, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih menyampaikan bahwa kedatangannya bersama Panewu Ngawen, Kepala DPUPR, serta Kepala Dinas Kebudayaan ialah untuk menyaksikan langsung bagaimana nilai-nilai luhur dijaga dengan ketat oleh masyarakat setempat.
“Kehadiran jajaran pejabat tersebut menegaskan apresiasi pemerintah terhadap kemandirian komunitas dalam merawat akar budaya di Desa Wisata Kampoeng.” Ucapnya.
Menurutnya, menjaga warisan untuk masa depan bagi warga Ngawen, Grebeg Besar Gunung Wijil bukan sekadar seremonial, melainkan merupakan ruang silaturahmi yang efektif untuk merekatkan hubungan antar warga.
“Semangat “Salam Budaya, Lestari Budayaku” yang diusung panitia tahun ini menjadi pengingat bahwa ditangan warga lokal-lah, identitas budaya suatu daerah tetap hidup dan relevan.” Ungkapnya.
Baca Juga : Mobil Ambulance Tabrak Motor di Jalan Wates-Purworejo, Pemotor Patah Tulang
Kegiatan yang diawali di Sekretariat Desa Wisata Kampoeng ini ditutup dengan harapan agar gotong royong yang telah terjalin tetap menjadi fondasi utama dalam kehidupan masyarakat, memastikan bahwa tradisi Gunung Wijil terus lestari melampaui zaman.





















