GUNUNGKIDUL, DIY (FAKTA9.COM)_ _//Lapangan Logandeng, Kalurahan Logandeng, Playen, Gunungkidul menjadi lokasi Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) tahun 2025, yang berlangsung mulai tanggal 11 hingga 18 Oktober 2025.
Acara yang diikuti oleh peserta dari 4 Kabupaten dan 1 Kota yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarka (DIY) ini mejgusung tema “Adoh Ratu Cedak Watu”.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan bahwa tema Adoh Ratu Cedak Watu berarti jauh dari pusat kekuasaan tapi dekat dengan akar budaya dan kekuatan tanah.
“Tema ini sangat tepat untuk menggambarkan karakter Gunungkidul, daerah yang terkenal dengan ketangguhan masyarakatnya meski jauh dari hiruk-pikuk kota.” Ucapnya, Sabtu (11/10/2025) siang.
Baca juga: Terlibat Kecelakaan Beruntun di Bantul, Satu Warga Panggang Henti Nafas
Menurutnya, Kabupaten Gunungkidul mempunyai fondasi yang kuat, baik dari budaya, adat, maupun semangat hidup masyarakatnya.
“Kami mencontohkan di wilayah Kapanewon Gedangsari yang termasuk dalam 15 kapanewon dengan tingkat kemiskinan tertinggi di DIY. Namun, semangat masyarakatnya membuktikan hal berbeda. Kualitas produk dari Gedangsari mampu menembus outlet di Yogyakarta International Airport (YIA).” Ungkapnya.
Ni Made Dwipanti Indrayanti menambahkan jika FKY di Kabupaten Gunungkidul dapat berdampak luas bagi kehidupan masyarakat luas dimana hasil karya masyarakat, dari kerajinan topeng, batik, hingga kuliner khas pedesaan disajikan di stand-stand yang berjejer.
“Kita lihat stand-stand kecil yang berisi dagangan dari masyarakat. Dengan adanya festival seperti ini maka saya yakin ekonomi masyarakat akan tumbuh, berkembang, dan menguatkan ekonomi lokal.” Tandasnya.
Baca juga: Satu Orang Meninggal Dunia Dalam Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Paris
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi menyampaikan bahwa FKY tahun ini memasuki tahun ketiga dalam format rebranding dan untuk pertama kalinya diselenggarakan di Kabupaten Gunungkidul.
“FKY di Kabupaten Gunungkidul ini, kami harus mampu menghadirkan festival kebudayaan yang dalam proses dan praktiknya harus benar-benar melibatkan masyarakat.” Ujarnya.
“Pameran ini bukan semata gebyar yang bisa ditonton, tetapi kolaborasi ide dan kerja bersama antara seniman, kurator dan masyarakat.” Imbuhnya.





