Oleh: Dea Wulandari
Mahasiswi Program Studi Ekonomi Pembangunan UAD Yogyakarta
(FAKTA9.COM)__//Yogyakarta selalu punya magnet tersendiri yang mampu memikat siapa saja. Sebagai kota
budaya yang sarat sejarah, kota pelajar yang ramah, sekaligus destinasi wisata utama di
Indonesia. Jogja tidak pernah sepi dari kedatangan orang baru setiap tahunnya. Namun, di balik daya pikat dan romantisasi perkotaannya yang luar biasa, Jogja belakangan ini harus menghadapi kenyataan pahit terkait salah satu masalah perkotaan yang paling krusial, yakni darurat sampah.
Sejak pembatasan hingga penutupan bertahap Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan beberapa waktu lalu, pemandangan tumpukan sampah di beberapa sudut jalan sempat menjadi persoalan pelik yang meresahkan warga lokal maupun wisatawan.
Masalah pengelolaan sampah di Jogja bukan lagi sekadar urusan estetika atau keindahan kota yang terganggu. Dampaknya sudah meluas menjadi ancaman nyata bagi kesehatan lingkungan, kelestarian ekosistem, hingga taruhan terhadap citra “Jogja Berhati Nyaman” yang selama ini dibanggakan.
Baca juga: Sabtu Malam, Bangunan Gudang di Karangmojo Terbakar
Kebijakan desentralisasi penuh yang mewajibkan setiap kabupaten/kota di
Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengelola sampahnya secara mandiri sebenarnya adalah
sebuah langkah maju dan berani.
Pemerintah Kota Yogyakarta sendiri telah berupaya keras mengoptimalkan tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R) seperti yang ada di wilayah Nitikan. Namun, sebuah pertanyaan besar tetap membayang: mengapa masalah ini belum sepenuhnya tuntas di lapangan?
Jika kita bedah lebih dalam secara objektif, akar masalahnya terletak pada ketidaksiapan
infrastruktur pengolahan di bagian hilir yang belum berbanding lurus dengan masifnya laju
produksi sampah harian.
Setiap harinya, ratusan ton sampah diproduksi dari berbagai sektor. Mulai dari limbah domestik rumah tangga, industri pariwisata perhotelan, hingga kawasan kos-kosan yang padat oleh mahasiswa.
Di sisi lain, budaya memilah sampah sejak dari sumbernya yaitu dari dapur rumah atau kamar kos masing-masing masih tergolong sangat rendah.
Masyarakat kita sering kali masih menerapkan pola pikir usang “kumpulkan, buang, lalu
lupakan“. Padahal, kapasitas tempat penampungan kota sudah berada di ambang batas kritis.
Menyelesaikan masalah perkotaan yang kompleks ini tentu tidak bisa hanya dengan
mengandalkan pemerintah daerah yang bergerak bak “memadamkan kebakaran” setiap kali ada tumpukan liar. Harus ada kesadaran kolektif dan gerakan radikal yang dimulai dari tingkat akar rumput.
Langkah pertama yang harus diambil adalah penegakan regulasi pemilahan sampah di tingkat terkecil, seperti RT dan RW. Regulasi ini tidak boleh sekadar menjadi macan kertas. Skema pembuatan eco-enzyme untuk sampah organik atau optimalisasi bank sampah berbasis komunitas yang aktif harus dihidupkan kembali dengan serius, bukan sekadar papan nama hiasan kampung.
Pemerintah daerah atau pengurus warga perlu menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang tegas. Warga yang aktif memilah diberikan insentif atau keringanan iuran, sementara mereka yang melanggar dengan sengaja mencampur sampah harus diberikan sanksi sosial atau denda yang membuat jera.
Langkah kedua adalah dengan melibatkan secara aktif elemen “Kota Pelajar“. Jogja dipenuhi oleh ratusan ribu mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru daerah untuk menuntut ilmu.
Baca juga: Kaki Warga Klaten Hancur Usai Terlindas Truk Tronton di Jalan Jogja-Wonosari
Komunitas mahasiswa dan akademisi kampus seharusnya tidak boleh tinggal diam dan wajib
menjadi motor penggerak edukasi lingkungan. Kampus-kampus besar di Jogja harus mempelopori penerapan sistem zero waste campus yang ketat di lingkungan internal mereka sendiri. Lebih jauh lagi, institusi pendidikan bisa menyumbang peran dengan menciptakan teknologi tepat guna skala rumah tangga untuk mengolah sampah organik menjadi kompos atau produk bernilai guna tinggi.
Menjaga keistimewaan Yogyakarta pada akhirnya adalah tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat. Kita semua yang saat ini hidup, mencari nafkah, dan menuntut ilmu di atas tanah Mataram ini pada hakikatnya berutang budi pada kenyamanan yang diberikan oleh kota ini. Sudah saatnya kita mengubah gaya hidup konsumtif dan mulai belajar memilah sampah dari ruang paling pribadi, yaitu kamar kita sendiri.
Jangan sampai Jogja yang kita cintai ini
kehilangan daya magisnya dan berubah menjadi kota yang tenggelam dalam tumpukan masalah sampahnya sendiri. Selagi belum terlambat, mari bergerak dari sekarang demi mewujudkan Jogja yang kembali resik dan nyaman untuk masa depan.




